Waktu itu aku nekat masak sendiri. Pikirnya, “Ah, masak buat 70-80 orang mah biasa aja.” Ternyata enggak biasa. Dari pagi buta ke pasar beli kambing, nyembelih bareng tetangga, motong-motong daging, bumbu, goreng sate, aduk gulai, panasnya minta ampun. Pas tamu mulai berdatangan, aku masih pakai celemek, rambut acak-acakan, dan bau asap. Tamu pada bilang, “Wah Mbak keren ya masak sendiri!” Tapi dalam hati aku cuma mikir, “Keren apaan, aku bahkan belum sempat ganti baju, belum sempat duduk, apalagi ngobrol.”
Hari itu aku janji dalam hati: aqiqah berikutnya (kalau ada anak lagi) gak bakal begini lagi. Aku pengen jadi tuan rumah yang elegan – yang bisa sambut tamu dengan senyum, duduk bareng, cerita-cerita, dan yang paling penting: benar-benar hadir di momen itu.
Dan alhamdulillah, pas aqiqah anak kedua, aku nemuin solusi yang bikin semuanya berubah drastis: pakai jasa catering aqiqah profesional. Bedanya jauh banget, dan ini yang bikin aku jatuh cinta sama konsep ini.
Pertama, super praktis. Aku cuma perlu WA, bilang “Paket untuk 80 orang ya, menu sate, gulai, tongseng, sop, sama nasi box.” Mereka langsung kasih estimasi, DP kecil, dan sisanya bayar pas hari H. Gak perlu ke pasar subuh-subuh, gak perlu cari tukang masak, gak perlu sewa kompor gas ekstra. Semua urusan dapur selesai di tangan mereka. Aku? Bisa mandi, dandan, pakai baju bagus, dan sambut tamu dengan tenang.
Kedua, halal 100% terjamin. Ini yang paling aku takutkan kalau masak sendiri atau pesen orang lain. Catering ini punya sertifikat halal MUI, proses penyembelihan sesuai syariat, dan mereka transparan banget – kalau minta, mereka kasih video prosesnya. Jadi aku bisa fokus ke doa dan niat, bukan was-was soal halal-haram.
Ketiga, higienis banget. Dapur mereka standar food safety, pakai bahan fresh setiap hari, kemasan rapi, box anti tumpah, dan pengiriman cepat biar makanan tetap hangat. Pas buka box-nya, wangi semerbak, daging empuk, gak ada cerita basi atau kurang matang. Tamu pada puji, “Wah enak dan bersih nih!” Aku cuma senyum dalam hati, “Iya, aku juga gak capek bikinnya.”
Terakhir, antar langsung ke rumah. Ini juaranya. Mereka dateng tepat waktu (bahkan bisa request jam), bawa semua paket, taruh di meja saji, beres. Aku tinggal atur piring sedikit, lalu langsung bisa keliling sambut tamu. Hari itu aku bisa duduk bareng ibu mertua, ngobrol sama sepupu yang jarang ketemu, foto bareng anak di depan backdrop sederhana, bahkan sempet nyanyi bareng anak-anak kecil. Rasanya… seperti presentasi yang sukses besar: delivery-nya lancar, audience happy, dan aku tenang.
Dari pengalaman dua aqiqah yang beda jauh itu, aku belajar: menjadi tuan rumah yang baik bukan berarti harus capek sendiri di dapur. Justru dengan mempercayakan bagian administrasi (masak, logistik, kebersihan) ke yang profesional, kita bisa fokus ke yang paling berharga: silaturahmi, doa, dan kebersamaan.
Jadi kalau kamu lagi planning aqiqah dan pengen ngerasain jadi tuan rumah elegan yang santai, gak panik, dan bisa nikmatin momennya – coba deh pakai jasa catering yang bener-bener terpercaya.

