Nah, dari pengalaman aku itu, aku mau sharing nih soal aqiqah online di era digital. Gak usah khawatir, meskipun semuanya serba virtual, sentuhan hati dan berkahnya tetep ada kok. Malah, justru bikin semuanya lebih mudah dan fokus ke yang penting: syukur atas kelahiran si kecil. Aku dulu skeptis, tapi setelah nyoba, aku yakin banget. Yuk, kita obrolin bareng-bareng.
Pertama, bayangin aja gimana repotnya aqiqah tradisional. Harus ke pasar beli kambing, nyembelih sendiri, masak untuk ratusan orang – capek deh! Di era digital, aqiqah online bikin semuanya praktis banget. Kamu tinggal buka website atau app, pilih paket sesuai budget, bayar via transfer atau e-wallet, selesai. Gak perlu keluar rumah, apalagi kalau lagi musim hujan atau sibuk kerja. Aku waktu itu pesen malam-malam sambil nyusuin bayi, besoknya udah konfirmasi. Praktisnya itu loh, bikin aku bisa lebih banyak waktu bonding sama anak daripada mikirin logistik.
Terus, soal halal – ini yang paling penting buat aku sebagai muslim. Aqiqah online yang bagus pasti punya sertifikasi halal dari MUI atau lembaga terpercaya. Mereka transparan banget: dari pemilihan kambing yang sehat, penyembelihan sesuai syariat, sampe pengolahan dagingnya. Aku dulu dapet video proses penyembelihannya via email, jadi hati tenang. Gak ada keraguan, "Ini beneran halal gak ya?" Karena semuanya documented, digital gitu. Jadi, meskipun online, kehalalannya tetep terjaga, bahkan lebih accountable daripada beli di pasar biasa.
Selanjutnya, higienis nih. Di masa sekarang, kesehatan nomor satu. Catering aqiqah online biasanya punya dapur standar food safety, pakai alat steril, dan kemasan vakum biar daging awet. Aku inget banget, paket aku dateng dalam box dingin, daging fresh tanpa bau amis, dan menu seperti sate, gulai, sama rendang yang masaknya higienis abis. Gak ada cerita kontaminasi atau basi, karena mereka pakai teknologi pengiriman cepat. Pokoknya, aman buat dibagi ke keluarga, tetangga, atau bahkan dikirim ke yatim piatu via online juga.
Yang paling aku suka: bisa antar ke rumah! Ini penyelamat banget buat orang kayak aku yang tinggal di kota macet seperti Tangerang. Mereka antar langsung ke alamat, lengkap dengan nasi box atau menu siap saji. Gak perlu jemput sendiri atau repot angkut-angkut. Aku waktu itu lagi karantina, tapi aqiqah tetep jalan. Tamu virtual via Zoom, tapi makanan nyata sampe rumah masing-masing. Praktis, halal, higienis, antar rumah – combo sempurna di era digital ini.
Tapi, balik lagi ke pertanyaan awal: apakah aqiqah online tetep bisa sampaikan cinta dan syukur? Dari pengalaman aku, iya banget! Justru karena praktis, aku bisa lebih fokus ke doa dan niat hati. Gak terganggu urusan teknis, jadi syukurnya lebih dalam. Cinta ke anak? Itu gak hilang cuma karena pesen online. Malah, aku bisa tambahin pesan personal di orderan, seperti nama anak dan doa spesial. Di era digital, semuanya lebih luas: bisa bagi link doa online ke saudara jauh, atau donasi sebagian daging via app. Cinta dan syukur gak terbatas ruang dan waktu.
Intinya, aqiqah online bukan pengganti, tapi penyempurna sunnah di zaman sekarang. Tetep penuh makna, asal niatnya ikhlas. Kalau kamu lagi planning aqiqah buat si kecil, yuk coba yang online. Hemat waktu, tenaga, dan tetep berkah.

