Waktu itu anak pertama lagi ulang tahun ke-5, sekaligus mau sekalian aqiqah kecil-kecilan buat adiknya yang baru lahir. Aku mikir, “Ah, masak sendiri aja lah, lebih hemat, lebih personal.” Jadi Sabtu pagi aku bangun jam 5, ke pasar, beli kambing, bumbu, sayur, terus masak gulai, sate, sop, rendang – semuanya dari nol. Panas, capek, dapur berantakan, anak-anak pada rewel karena aku gak bisa nemenin mereka main. Pas tamu datang jam 11 siang, aku masih pakai daster, tangan bau bawang, dan cuma bisa senyum kecut sambil bilang, “Bentar ya, lagi finishing nih…”
Hasilnya? Aku gak sempat duduk bareng keluarga, gak sempat foto sama anak, bahkan hampir gak sempat makan sendiri. Akhir pekan yang seharusnya seru malah jadi capek jiwa raga. Di mobil pas anter pulang mertua, aku cuma bisa diam sambil mikir: “Ini investasi waktu buat keluarga apa sih? Kok malah aku yang kehilangan momen?”
Sejak saat itu aku berubah pikiran total. Akhir pekan berikutnya, pas ada acara aqiqah lagi buat ponakan, aku langsung pesen catering. Dan wow, bedanya seperti langit dan bumi.
Yang pertama bikin aku jatuh cinta: praktis luar biasa. Aku cuma WA Jumat malam, bilang “Besok Sabtu, 60 porsi ya, menu sate kambing, gulai, tongseng, sama nasi box.” Sabtu pagi mereka datang, bawa semua paket, taruh di meja, beres. Aku? Bangun jam 8, mandi, dandan, main sama anak di taman belakang, sambil nunggu tamu. Gak ada drama ke pasar subuh, gak ada keringetan di dapur, gak ada cuci piring seabrek. Waktu yang tadinya habis buat masak, sekarang 100% buat keluarga.
Kedua, halal terjamin tanpa ragu. Aku tahu banget prosesnya: dari pemilihan kambing sehat, penyembelihan sesuai syariat, sampai masak di dapur bersertifikat halal MUI. Mereka bahkan kirim foto dan video kalau aku minta. Jadi aku bisa tenang, tamu juga yakin, dan berkahnya terasa.
Ketiga, higienis level pro. Dapur mereka standar food safety, bahan fresh setiap hari, kemasan vakum biar gak bau, box anti tumpah. Pas buka paket, daging masih hangat, wangi, empuk – gak ada cerita “kok agak amis ya” atau “kayaknya kurang matang”. Di masa sekarang yang kesehatan jadi prioritas, ini bikin aku jauh lebih nyaman.
Dan yang paling bikin aku senyum lebar: bisa antar langsung ke rumah. Di Tangerang yang macetnya juara, mereka tetap tepat waktu. Datang, set up meja saji, bahkan bantu susun kalau perlu. Aku tinggal sambut tamu dengan senyum, duduk bareng keluarga, cerita-cerita, foto bareng anak, dan nikmatin momen. Akhir pekan jadi benar-benar liburan mini, bukan kerja lembur dadakan di dapur.
Dari pengalaman itu aku sadar: masak sendiri memang bisa hemat uang, tapi seringkali “mahal” dalam hal waktu dan energi. Sedangkan catering yang tepat justru investasi cerdas – kita keluar duit lebih, tapi dapat waktu berkualitas yang gak ternilai harganya buat keluarga.
Jadi kalau kamu lagi mikir-mikir buat acara akhir pekan, aqiqah, atau sekadar kumpul keluarga besar – pertimbangkan lagi: mau capek di dapur atau mau jadi tuan rumah yang santai dan hadir sepenuh hati?

