Aku coba breakdown waktu itu:
- Kambing hidup + ongkir ke rumah: ± Rp 3,5 juta
- Bumbu, sayur, beras, minyak, gas ekstra: ± Rp 2 juta
- Sewa kompor gas tambahan + panci besar: ± Rp 500 ribu
- Bayar tukang potong & bantu masak (karena aku gak kuat sendiri): ± Rp 1 juta
- Belanja dadakan karena lupa item: ± Rp 800 ribu
Total cash out: sekitar Rp 7,8 juta. Kayaknya hemat ya? Tapi tunggu dulu, hidden cost-nya:
- Waktu ke pasar subuh-subuh: 4 jam hilang tidur & istirahat
- Stres 2 hari sebelum acara: mikirin “dagingnya cukup gak?”, “bumbunya pas gak?”
- Capek fisik: badan pegel, tangan melepuh, bau asap nempel 3 hari
- Hilang momen: aku hampir gak sempat gendong bayi, gak foto bareng keluarga, gak duduk dengerin doa ustadz
- Risiko: kalau masak kurang matang atau kebanyakan tamu, bisa tambah beli lagi atau tamu kecewa
Kalau diuangkan secara kasar, nilai waktu & energi aku (sebagai ibu baru) itu minimal setara Rp 1 juta kalau dihitung upah harian. Jadi total “biaya sebenarnya” bisa nyampe Rp 7-8 juta. Dan yang paling mahal: stres yang bikin mood jelek seminggu setelahnya.
Aqiqah anak kedua? Aku langsung pesen catering. Paket 80 porsi full menu (sate, gulai, tongseng, sop, nasi box): Rp 3 juta-an all-in. Nggak ada hidden cost. Dan hasilnya? Beda jauh.
Kenapa catering ini jadi pilihan yang jauh lebih cerdas secara hitung-hitungan?
Pertama, praktis tanpa drama. Aku cuma WA seminggu sebelumnya, kasih jumlah tamu, pilih menu, bayar DP 30%, sisanya hari H. Gak perlu ke pasar, gak perlu mikirin gas habis, gak perlu rekrut tukang bantu. Semua urusan logistik mereka yang tanggung. Aku bisa tidur nyenyak malam sebelum acara, bangun pagi santai, mandi, dandan, peluk bayi, sambut tamu dengan senyum asli.
Kedua, halal terjamin 100%. Sertifikat MUI, penyembelihan sesuai syariat, proses transparan. Kalau aku minta bukti, mereka kirim video. Gak ada lagi rasa was-was “ini beneran halal gak ya?” yang biasanya muncul pas masak sendiri pakai supplier random.
Ketiga, higienis dan aman. Dapur standar food safety, bahan fresh harian, kemasan vakum, box anti tumpah. Pas buka paket, daging masih hangat, empuk, wangi – tamu pada puji “enak dan bersih nih”. Di zaman sekarang yang orang takut keracunan makanan, ini priceless. Gak ada risiko “ada yang sakit perut besoknya”.
Keempat, antar langsung ke rumah. Di Tangerang macet parah, mereka tetap on time. Datang, taruh di meja saji, beres. Aku tinggal tambah hiasan kalau mau, lalu langsung bisa duduk bareng keluarga, foto, dengerin doa, nikmatin momen sunnah tanpa mikir “siapa yang cuci piring nanti?”.
Hitung-hitungan realistisnya: biaya uang catering sedikit lebih tinggi (Rp 9,5 juta vs Rp 8,8 juta cash out masak sendiri), tapi hidden cost-nya nol besar. Waktu, energi, kesehatan mental, kualitas momen – semuanya terjaga. Malah hemat secara keseluruhan kalau dihitung total life value.
Jadi kalau kamu lagi mikir “masak sendiri biar hemat”, coba hitung ulang termasuk stres dan waktu yang hilang. Seringkali catering justru jadi pilihan yang lebih murah dan bijak.

